Puri Ditha

Januari 18, 2009 |

Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang rajin bergotong royong, nggak percaya ?

Buktinya saat problema yang dihadapi bangsa Palestina yang luluh lantak dihajar bangsa agresor Yahudi, serta merta membangkitkan kebersamaan untuk menyumbang warga nun jauh berpuluh ribu kilometer di sana …

Hal serupa coba kami terapkan untuk membangkitkan sentimental warga sekitar Komplek Perum Puri Ditha di sekitar tempat saya tinggal, di mana jalan perumahan kami banyak berlubang akibat buangan kamar mandi dari sebuah studio foto yang notabene mencintai keindahan dengan memotret berbagai macam model namun untuk urusan membuang sampah, jangan dipandang bahwa kebiasaan sehat ini juga mereka lakukan

Sampai suatu ketika, beberapa bapak-bapak berkoordinasi untuk meminta sumbangan sukarela kepada warga untuk membantu urunan dana ala kadarnya guna membeli beberapa ret pasir urukan guna menyumbat kubangan ciptaan studio foto yang bernuansa impian ini … langkah antisipatif pun dirancang …

Beberapa rumah di jalur pertama, sekitar 7 kepala keluarga menyumbang dan syukur tercapai jumlah 350 ribu. Kemudian kami beralih ke jalur dua di sini ada 14 buah rumah, namun yang terisi hanya sekitar 7 rumah. Dan syukur dari 7 rumah ini jumlah yang hampir sama kami peroleh.
Pada akhir perjalanan, kami singgah di dua rumah berbeda yang kebetulan berada dalam komplek yang sama namun posisinya membelakangi jalan. Kedua rumah ini terbilang eksklusif dibanding komplekan kami yang lain. Diputuskan bahwa saya yang berbicara mewakili untuk bernegosiasi, sebuah kenyataan yang mengejutkan jika dibandingkan menterengnya rumah-rumah tersebut dibandingkan sikap dan cara menerima kedatangan kami.
Jangankan memberikan ala kadarnya, ya oke lah, kami tidak berharap sebagaimana target hanya menginginkan adanya kebersamaan warga komplekan Puri Ditha untuk menghadapi bersama masalah jalan berlubang ini - kami bertiga diceramahi kurang lebih selama 15 menit dan diberi kuliah teknik untuk menambal lubang di tanah yang pada ujung-ujungnya ditolak untuk memberi sumbangan sukarela atau ala kadarnya.
Dua kepala keluarga ini bukan pula orang terbelakang, bukan pula orang tak mampu karena memiliki ukuran rumah yang terbilang lebih besar dari 14 kepala keluarga lain. Dengan alasan tidak bisa mengeluarkan uang di senja hari, sebab kami mulai ngider setelah magrib dan dijanjikan keesokan hari pas kerja bakti. Tetapi bantuan dan janji itu hanya omong kosong, bahkan yang lebih menyakitkan kedua rumah khusus ini mengklaim bahwa mereka hanya menggunakan jalan tepian dan kontribusi pengrusakan jalan tersebut sangat kecil sebab hanya menggunakan transportasi roda dua saja
Sungguh berbeda dengan kenyataan fisik yang ditampilkan isi rumah dengan “kelakuan” sosial yang ditampilkan. D

Itulah suka dukanya meminta bantuan warga terdekat, lebih mudah mengumpulkan bantuan ke Palestina dibandingkan mengumpulkan uang untuk menambal jalan berlubang yang tidak memakan biaya 1 juta dollar D

Ada jargon mengatakan, bahwa keluarga terdekat adalah tetangga terdekat dan tetangga terdekat adalah keluarga terdekat …


Comments

3 Comments so far

  1. Come on Januari 18, 2009 7:38 pm

    Thank for u share
    salam

  2. rudyhilkya on Januari 21, 2009 5:30 pm

    terima kasih atas kunjungan dan komentarnya :D

  3. ryan on Februari 16, 2009 6:02 pm

    Hey,

    I’m organising an online seminar with a few indonesian bloggers to talk to Amnesty International about how to use blog networks to help fight human rights issues around the world. Would you like to attend? I’d appreciate your input into Amnesty’s current ideas. I’m looking for a total of 5 bloggers to take part, so it would be great to have you there.

    Thanks!

    Ryan

Name (wajib)

Email (wajib)

Situs web

Speak your mind

gajah